Izinkan Aku Meminjam Matarimu (bagian empat)
Selasa, 08 Maret 2011
Akhirnya dr Febri tidak bisa lagi menyembunyikan penyakitnya kepada Mizan. Dia menceritakan penyakitnya mulai dari awal hingga bertahan sampai sekarang.

Kak Mizan menyela untuk bertanya, apakah tidak ada cara untuk menyembuhkan leukemia. Kubilang ada, melalui transplantasi sumsul tulang. Tetapi itu adalah hal yang sangat tidak mungkin untukku, seperti pungguk merindukan bulan.

 

Transplantasi sumsum tulang adalah hal yang mustahil bagiku, karena aku anak tunggal, tidak memiliki saudara kandung sehingga sulit mencari donor yang cocok.

 

Kalaupun ada donor yang cocok dengan senyawa protein pencegah penolakan dalam tubuhku atau biasa disebut HLA yang mirip hampir 90%  sekalipun,  belum tentu aku dapat melakukannya.

 

Karena transplantasi bukan perkara murah 100-200 juta, melainkan dapat mencapai 10-20 kali lipat lagi pula belum ada satupun rumah sakit di Indonesia yang dapat melakukannya. Bukan karena dokternya tidak bisa, tetapi peralatan dan perawatan pasca operasi kita belum mendukung.

 

Kak Mizan adalah pendengar yang baik. Sepanjang aku bercerita, matanya selalu menatap teduh menusuk ke dalam kalbuku. Seandainya kak Mizan adalah kakakku dalam arti yang sebenarnya, aku pasti saat ini sudah menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya.

 

Menangis dalam kepedihan yang sangat. Menangisi ketidakberdayaanku sebagai manusia, anak manusia yang berpenyakit dan hidup seorang diri tanpa ayah-ibu.

 

Tetapi aku tentu tidak boleh memeluk kak Mizan, meskipun aku sangat ingin untuk menumpahkan air mataku yang mulai menyesakkan dada. Aku juga tidak boleh menyalahkan Tuhan.

 

Bagiku Tuhan telah begitu baik memberiku bonus tambahan hingga tujuh tahun, sehingga dapat kugunakan menemani ayah hingga akhir hayatnya. Tuhan juga telah membuat ayah meninggal supaya tidak melihatku menderita lagi.

 

Aku sudah sangat bersyukur atas semua nikmatnya ini, setidaknya aku tidak menyakiti hati ayah dengan meninggalkan ayah lebih dulu. Ayah adalah segalanya untukku, tak pernah terbersit satu keinginan pun untuk membuat beliau sedih.

 

Akhirnya aku memutuskan untuk PTT di Lontar ini, di daerah dengan kategori sangat terpencil semata-mata untuk menghabiskan sisa hidupku yang sebatang kara agar bermanfaat bagi orang lain.

 

Aku ingin mengabdi untuk masyarakat yang  benar-benar membutuhkan keberadaan seorang dokter. Agar enam tahun ilmu yang kuperoleh di fakultas kedokteran tidak disia-siakan oleh penyakitku.

 

Aku sudah tidak ingin meminta bonus tambahan umur lagi, aku tidak akan menjalani kemoterapi lagi meskipun aku tahu saat ini sel-sel muda dalam darahku akan melakukan aksi kudeta lagi, menyerang sel-sel darah sehat sehingga membuatku semakin lemah. Aku sudah sangat ikhlas berapapun takdir umurku digariskan oleh Tuhan, penguasa semesta alam.

 

Aku mengakhiri ceritaku kepada kak Mizan tanpa airmata, meskipun aku sudah sangat ingin menangis. Aku tidak ingin membuat kak Mizan semakin kasihan kepadaku.

 

”Menangislah dok, jika piyan ingin menangis, jangan disimpan, karena akan menyakitkan,” rupanya kak Mizan tahu juga apa yang kusembunyikan.

 

Tak sadar beberapa tetes airmata mengalir pelan dari dalam kedua mataku, mungkin ini air mata yang sudah tak tertahankan. Malam itu kusadari betapa kak Mizan seperti ayahku yang memiliki sorot mata teduh dan penuh kasih sayang, mengerti apa yang kupikirkan dan kurasakan tanpa kuucapkan dan selalu ada disaat kubutuhkan. Aku hanya tidak tahu apakah dia juga menyayangiku seperti ayah menyayangiku.

 

Sejak pengakuanku malam itu, perhatian kak Mizan semakin besar kepadaku, meskipun tidak berlebihan. Kuyakin kak Mizan juga menyadari hubungan kami sebagai dokter dan perawat. 

 

Kami harus menjaga profesionalisme kerja. Perhatian-perhatian kecil yang menurutku masih dalam batas kewajaran sebagai rasa empati kepada penyakitku.

 

Jika memeriksa pasien, tanpa kuminta semua yang kubutuhkan sudah tersedia, mulai pulpen sampai lampu kepala untuk memeriksa telinga selalu tersedia. Kertas resep pun sudah lengkap diberi nama dan tanggal, sehingga aku tinggal mengisinya saja.

 

Artinya selama ada kak Mizan di balai periksa, aku tinggal duduk manis saja. Kak Mizan juga sering menemaniku berbincang-bincang, jika aku sedang sendirian menunggu pasien yang datang, atau sekedar menanyakan kondisiku lewat sms jika dia tidak ada waktu menemaniku di balai periksa.

 

Tetapi sudah seminggu kak Mizan tidak masuk kerja. Awalnya aku tidak merasakan apa-apa, tetapi lama-kelamaan terasa juga kehampaanku tanpa kak Mizan. Setelah setiap hari ketemu dan mendapatkan perhatiannya, aku menjadi sangat penasaran untuk mengetahui keberadaannya.

 

Kemarin aku mengirimkan SMS kepadanya, namun tak berbalas, meskipun delivered. Kucoba menelepon, selalu tidak aktif. Kutanyakan bidan Aisyah dan Dimas sebagai orang-orang terdekatnya, tidak ada jawaban yang memuaskan.

 

Dimas hanya mengangkat bahu, sedangkan bidan Aisyah bilang mungkin kak Mizan pulang ke Kandangan, salah satu daerah di Kalimantan Selatan yang terkenal dengan jajanan dodolnya.

 

Setidaknya aku dapat sedikit gambaran, bahwa kak Mizan pulang ke kampung halamannya, meskipun tidak jelas kenapa dia harus tiba-tiba mudik dalam waktu yang lama.

 

Aku baru menyadari tidak aku saja yang merasa kehilangan kak Mizan, tetapi semua orang-orang di puskesmas mulai mengkhawatirkan keberadaannya.

 

Setiap hari selalu ada saja topik pembicaraan mengenai dirinya. Semua sepakat kak Mizan adalah orang yang baik dan penuh perhatian kepada teman-temanya.

 

Tidak hanya kepada aku saja dia memiliki rasa empati yang besar, tetapi setiap ada teman yang sakit atau sedang kesusahan, pasti dia langsung membantu dengan ikhlas.

 

Menurut orang-orang, istri kak Mizan juga sama baiknya dengan dirinya. Meskipun sama-sama pendatang dan bukan asli orang Lontar, tetapi mereka berdua adalah pasangan yang ringan tangan kepada sesama.

 

Sudah lebih seminggu kak Mizan belum muncul juga. Hari ini badanku panas menggigil, tulang-tulangku nyeri menusuk-nusuk ngilu, sehingga kuputuskan untuk beristirahat saja di rumah.

 

Aku yakin ini adalah bagian dari penyakitku, saat-saat kudeta kecil-kecilan mulai berlangsung di dalam sel-sel tubuhku yang sehat. Tadi aku sudah menyuntikkan sendiri penghilang rasa sakit paling ampuh yang kupunya, dan kuhanya ingin tidur, berharap setelah bangun gejala penyakitku ini akan menghilang.  

 

Aku sudah terbangun sejak dua jam yang lalu dan kondisiku mulai membaik. Jam di dinding berdentang dua kali. Udara panas di siang yang terik membakar kulitku, memaksa tubuhku mengucurkan keringat yang deras.

 

Selepas salat dhuhur aku lebih memilih memakai babydoll tipis terbuat dari katun yang terasa dingin di kulit. Aku tidak peduli wajahku terlihat kuyu dan lekuk-lekuk tulang yang menandakan kekurusanku semakin jelas, yang kuinginkan hanya terbebas dari rasa gerah. Sambil mengipasi tubuhku yang kepanasan kudengar pintu depan diketuk.

 

Assalamualaikum.

 

Aku lihat bidan Aisyah sudah berdiri di depan pintuku, matanya berkaca-kaca.

 

”Kenapa bidan?” aku mempersilakannya masuk. Tetapi dia tidak mengambil tempat duduk, melainkan langsung memelukku erat sekali sambil menumpahkan air matanya, tersedu-sedu di pundakku.

 

”Kenapa dokter tidak ceritakan semuanya kepada saya? Kenapa dokter harus menghadapinya sendirian?” Masih dalam pelukkanku, bidan Aisyah seakan-akan mempersalahkanku dalam isak tangisnya.

 

Sejurus kemudian bidan Aisyah melepaskan pelukkannya lalu terduduk diam di sofa memandangiku yang hanya pasif terdiam mengikuti setiap gerakannya. Aku pun ikut duduk di sofa.

 

”Mizan sudah menceritakan semuanya dok. Semua yang terjadi atas diri dokter dan semua keinginan Mizan yang sempat membuat kami bersitegang.”

 

Bidan Aisyah sudah dapat menguasai emosinya, sekarang nada bicaranya sudah normal kembali. Tetapi aku masih belum mengerti maksud tersirat bidan Aisyah. Tidak mengapa ia mengetahui penyakitku, tapi kenapa harus diikuti bersitengang dengan kak Mizan?

 

Aku tetap terdiam. Memandangi bidan Aisyah dalam kepucatan sorot mataku, meskipun baru berusia 35 tahun, tetapi garis-garis halus di kelopak matanya mulai jelas.

 

Mungkin energinya banyak terkuras memikirkan puskesmas dan beban rumah tangganya. Bidan  Aisyah adalah istri pertama dari dua istri yang dimiliki suaminya. Ia sering tidak ada di rumah, karena lebih suka menghabiskan waktunya bersama suami dan anak-anaknya di camp perusahaan tempat suaminya bekerja, sekitar 30 kilometer dari puskesmas.

 

Suatu ketika, bidan Aisyah mengatakan kepadaku bahwa ia khawatir suaminya akan menikah lagi jika ia lebih banyak tinggal di rumah dinas.

 

Oleh sebab itu, aku sering merasa sendiri, meskipun di sebelahku ada dua rumah dinas, karena Dimas juga jarang kelihatan. Dia biasa menghabiskan waktu bersama teman-temannya di perkampungan penduduk, dan baru tengah malam pulang ke rumah dinas.

 

”Jadi begini dok, selain karena keinginan saya, Saya ke sini atas keinginan Mizan juga.” Kalimatnya jelas, namun aku menangkap ada maksud yang lain.  

 

”Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Bukannya saya atau Mizan lancang, bukannya Mizan tidak memandang kedudukannya sebagai perawat. Tapi semata-mata karena rasa sayang Mizan sebagai manusia biasa kepada dokter.”

 

Kalimat bidan Aisyah tertahan. Sorot matanya mengatakan padaku, dia hendak mengatakan sesuatu yang berat untuk diucapkan.

 

”Mizan ingin menikahi dokter, tanpa menceraikan istri pertamanya.” Bidan Aisyah mengatakannya dengan nada datar dan suara yang berat.

 

Sedangkan aku seperti tersengat listrik ribuan megawatt, menyengat jutaan sel-sel saraf otakku untuk memacu adrenalinku. Adrenalin itu membuat jantungku berdebar-debar kencang, serasa hendak merubuhkan dinding dadaku. Aku berusaha menguasai keadaan.

 

”Apa maksud semua ini Bidan? Bidan sadar apa yang piyan ucapkan?” mataku nanar menunduk, menatap kosong lantai keramik rumah dinasku. Suasana menjadi hening karena bidan Aisyah ikut menunduk juga.

 

”Apakah saya harus merasakan juga apa yang bidan rasakan? Lebih parah mungkin, karena harus menjadi istri yang kedua?” Adrenalin telah membuat nada suaraku naik satu oktaf.

 

”Dokter Febri, jangan salah paham dulu. Mizan bukannya ingin menyakiti hati piyan. Saya sadar, sesadar-sadarnya bahwa saya sedang menawarkan poligami ke dokter. Suatu hal yang saya benci setengah mati dan tentu saya tidak akan membuat dokter merasakannnya juga. Tapi, Mizan lain dokter. Dia tidak seperti suami saya yang menikahi wanita lain karena nafsu.”

 

Penjelasan bidan Aisyah terputus, karena melihatku secepat kilat mengambil tissue di atas meja di depan kami lalu memencet hidungku dan menengadah ke atas. Adrenalin telah mengacaukan banyak sel di tubuhku yang memang sudah kacau, sehingga lagi-lagi hidungku merembeskan darah, meskipun hanya sedikit.

 

Bidan Aisyah terdiam, matanya sedih melihatku. Aku tidak peduli, menghentikan darah ini lebih penting daripada melihat tatapan matanya. Akhirnya darah berhenti keluar juga, dan bidan Aisyah melanjutkan kalimatnya sambil memegang erat tangan kiriku.

 

”Mizan melakukan itu karena ia ingin melindungi dokter. Dia tidak ingin dokter sendirian merasakan sakit, sendirian menghadapi hari-hari terakhir piyan dalam kepekatan malam desa kami. Bagaimana jika tiba-tiba dokter pingsan lalu tidak ada yang tahu? Bagaimana jika tiba-tiba dokter sangat membutuhkan pertolongan, sementara Dimas dan saya tidak ada di sebelah? Dokter, Mizan benar-benar tulus menawarkan itu untuk dokter.” Genggaman bidan Aisyah semakin erat.

 

”Awalnya saya memang tidak menyetujui keinginan Mizan itu. Kami bertengkar hebat dokter. Saya jelas-jelas menentangnya, karena saya sendiri sudah  merasakan sakitnya dimadu. Lalu Mizan menghilang, dia ingin sementara waktu berpisah dari dokter dan menghilangkan keinginannya itu. Dia benar-benar menghabiskan masa cutinya itu hanya bersama istrinya. Bulan madu kedua katanya.

 

Dia belajar lagi hidup tanpa kehadiran dokter di sampingnya. Tetapi akhirnya saya sadar dok, sisi kemanusiaan Mizan sangat besar kepada piyan. Keinginan Mizan menikah lagi jelas berbeda dengan suami saya. Dua hari yang lalu Mizan menelpon saya sambil menangis terisak-isak, katanya dia tidak bisa tidak mengkhwatirkan dokter. Dia sudah berusaha sekuat tenaga hanya fokus kepada istrinya, tetapi tidak bisa.

 

Saya tidak pernah melihat Mizan menangis dok, bahkan saat itu saya sampai harus terdiam lebih dari lima menit untuk menunggu Mizan menyelesaikan isak tangisnya.  Katanya hatinya pedih sekali dok, ngilu mengkhawatirkan dokter sendirian menghabiskan hari-hari piyan dalam rasa sakit.

 

Apalagi setelah hari ini saya melihat dokter begitu lemah, pucat dan dengan mata kepala saya sendiri melihat dokter mimisan tanpa ada trauma sebelumnya.”

 

Bidan Aisyah terdiam. Lalu kembali melanjutkan kalimatnya.

 

”Mungkin ini sudah takdir dokter dan Mizan untuk dipersatukan dengan jalan seperti ini.”

 

Airmataku mengalir perlahan, bidan Aisyah memelukku erat. Hatiku bagaikan tersayat sembilu, seakan merasakan juga kepedihan kak Mizan atas penderitaanku, atas kesendirianku dan beratnya beban penyakit yang kutanggung.

 

Di dalam pelukan bidan Aisyah aku menangis sejadi-jadinya, kucurahkan semua rasa sedih dan sesak di dadaku yang kusimpan seorang diri. Akhirnya aku dapat melakukan sesuatu yang selama ini tidak dapat kulakukan, karena tidak ada siapapun yang dapat memelukku seperti saat ini bidan Aisyah memelukku.

 

”Maafkan saya dok, saya bukannya tidak tahu diri, saya juga bukannya meremehkan harga diri piyan sebagai seorang dokter. Saya tidak mengharap pamrih apapun kecuali hanya ingin melindungi dan merawat piyan. Menjadi tempat berbagi, tanpa harus terhalang apapun. Agar saya bisa menjadi tempat bersandar yang halal untuk piyan.”

 

Kak Mizan berusaha menyakinkanku dengan keputusannya. Pagi tadi dia baru datang di Lontar dan sorenya langsung menemuiku.

 

Aku menghela nafas panjang. Semuanya terasa berat di dadaku, otakku seperti dibebani beban satu ton beratnya untuk dipikirkan. Seandainya saja kak Mizan belum beristri mungkin segalanya akan lebih mudah.

 

Seandainya aku tidak perlu menghitung hari  menanti akhir dari hidupku. Seandainya aku tidak perlu terkukung dalam penyakit ganasku ini, mungkin kak Mizan tidak akan berempati padaku dan semuanya tak akan terjadi.

 

Jika saja ayah masih hidup, pasti aku akan berjuang untuk menawar umurku lagi, menjalani rangkaian kemoterapi yang melelahkan, tanpa harus melarikan diriku ke sini dan bertemu kak Mizan.

 

Tapi itu semua hanya khayalan semuku saja. Semua telah digariskan. Kenyataannya adalah aku seorang gadis yang hidup sebatang kara, terkena kanker darah yang ganas dan setiap hari dalam hidupku mungkin adalah hari terakhirku di dunia.

 

Kenyataan lainnya bahwa kak Mizan telah memiliki istri dan kini ia ingin menjadikanku istri kedua. Maka aku harus menghadapi segala kerumitan ini.

 

”Kak Mizan sadar dengan konsekuensi menikahi saya? Saya adalah penderita kanker ganas, saya mungkin tidak bisa melayani piyan sebagaimana wanita kebanyakan. Tubuh saya lemah, jika terlalu capek saya akan mengalami perdarahan spontan.

 

Saya juga tidak mau melahirkan anak. Karena mungkin anak saya nanti menderita penyakit yang sama dengan saya dan hanya menyusahkan orang lain. Tahankah piyan dengan istri seperti itu? Istri yang hanya akan menyusahkan saja.

 

Kak Mizan sudah bahagia dengan istri piyan, jangan merusak kebahagiaan itu hanya demi saya yang mungkin tidak akan dapat membahagiakan piyan sama sekali.” Aku berusaha menyadarkan kak Mizan.

 

”Dokter saya sudah berpikir berhari-hari, bahkan sejak satu bulan yang lalu mengenai keputusan ini. Mungkin sebagian orang menganggap saya gila, karena menikahi seseorang  yang sedang berperang melawan penyakit kanker, seseorang yang mungkin tidak dapat melayani saya sebagai seorang lelaki sehingga tidak mungkin saya mengharapkan keturunan darinya. Meski sampai sekarang pun istri saya belum hamil juga.”

 

 

bersambung

penulis: Erike Suwarsono



Komentar


Di tulis oleh PUSKESMAS LONTAR ,pada 15-03-2011, 11:39:51
Assalamualaikum Bu dokter Ceritanya seru....!



Nama

Email

Tulis Komentar



CAPTCHA Image Reload Image

Masukan Kode yang tertera diatas :
Copyright © PT. Dharma Nyata Press