Air mata Angelina Sondakh memang masih sesekali menetes. Tapi, semangatnya untuk melanjutkan hidup sudah muncul secara perlahan
Meski belum seperti sedia kala, setidaknya Angie demikian Angelina Sondakh biasa disapa, sudah bisa tersenyum bahkan tertawa lebar. Mengumpulkan energi agar bisa menjalani hidup meski tanpa Adjie Massaid di sampingnya.
”Saya harus bisa mengikhlaskan Mas Adjie, meski hingga saat ini saya masih belum bisa mengikhlaskannya. Tapi saya mulai berusaha menyongsong masa depan dan saya harus kuat,” kata Angie.
Setiap hari dilalui Angie dengan proses belajar untuk kuat dan mengikhlaskan kepergian Angie. Dari situ, Angie belajar bahwa manusia harus lebih mencintai Tuhan, ketimbang mencintai pasangan hidup.
”Saya memang harus mencintai Allah. Mungkin kita terlalu mencintai seseorang dan itu milikNya,” imbuhnya.
Namun, kadang Angie merasa berat mengikhlaskan Adjie karena begitu banyak kenangan indah yang dirasakan bersama Adjie. Bagaimana Adjie memanjakan dia dengan perhatian dan hadiah yang membuat Angie sangat tersanjung.
”Sejak saya ultah, saya selalu dimanjakan. Dia belikan saya kado, laptop, ipad dan perpustakaan. Semuanya untuk saya. Saya diajak ke China, Belanda. Dia bilang, kalau nanti di Belanda, ntar anak-anak sama oma. Kamu sama saya jalan-jalan berdua saja,” kenang Angie.
Hadiah lain yang diberikan Adjie juga membuat Angie sangat terharu. ”Dia kasih saya mobil yang nomor polisinya B 2 AJI dan dia minta saya nyetir sendiri. Katanya B 2 AJI itu artinya berdua Aji. Jadi kalau kamu bawa mobil, kamu sama saya terus dan kamu bawa terus. Ini yang membuat saya sangat susah,” tambah perempuan kelahiran 28 Desember 1977 ini.
Karenanya, hingga dua pekan lebih sepeninggal Adjie, Angie masih melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan ketika Adjie masih ada. ”Saya masih menyediakan sarapan untuk Mas Adjie. Semuanya masih sama seperti sebelumnya,” imbuhnya.
Tapi, hidup memang harus berjalan. Angie harus bangkit dan meneruskan hidupnya. Kembali bekerja dan menjalankan aktivitasnya seperti sedia kala.
Momen yang dimanfaatkan untuk memulai adalah membereskan ruang kerja Adjie dai ruang 0931 Gedung DPR RI. Angie pun meluangkan waktu 10 menit untuk memanjatkan doa.
Ketika masuk ruang kerja suaminya, Angie merasa tubuhnya gemetar. Perasaannya campur aduk
Bagi Angie, ruang kerja Adjie bukan sekadar tempat ngantor almarhum suaminya. Di ruang itulah, cinta mereka bersemi.
”Ruangan ini punya banyak kenangan. Mulai dari kami pacaran, menikah dan punya anak. Sampai sekarang masih bisa saya rasakan,” tutur Angie.
Di tempat itu pula, mereka berdebat. ”Setiap waktu kami selalu bersama, ngobrol dan ini menjadi langkah terberat buat saya karena perjalanan karir dan cinta semua ada di sini,” ujarnya sambil menahan tangis.
Terlalu banyak kenangan yang tercipta di ruangan itu. ”Terlalu banyak kenangan yang susah dilupakan pada saat kembali ke DPR. Saya berusaha mengumpulkan jiwa saya,” tuturnya.

Berharap Zahwa dan Aaliyah tetap Bersamanya
Meski berstatus ibu tiri, Angie begitu dekat dengan Zahwa dan Aaliyah. ”Saya bersama sejak Zahwa berumur lima tahun dan Aaliyah empat tahun. Mereka menjadi saksi hubungan saya dengan Mas Adjie,” terang Angie.
Yang unik, Zahwalah yang menjadi penengah bila Angie dan Adjie bertengkar. ”Kalau kami lagi berantem, Zahwa yang menengahi. Mereka menyatukan saya dan Mas Adjie. Zahwa juga menjadi teman saya bicara,” tambah Angie.
Karenanya, Angie berharap Zahwa dan Aaliyah tetap tinggal bersamanya.”Mudah-mudahan, mereka tetap bersama saya. Tapi saya juga menghormati ibu kandungnya.
Namun, Angie menyerahkan sepenuhnya kepada Zahwa dan Aaliyah untuk memilih. ”Saya sangat menghargai Reza sebagai ibu kandungnya. Mungkin nanti kami bisa merawat bersama,” harapnya.*
reporter: syukri
foto: fuji, reza
